JAKARTA - Imam besar Masjid Raya Raya Al Hikmah New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali berpandangan, salah satu pemicu konflik antaragama adalah belum adanya kesadaran bertoleransi. Di sisi lain, negara tidak berhak mendikte orang beragama.
"Tantangan terbesar agama Islam membalik pandangan dari sumber konflik jadi sumber kedamaian. Negara juga harus memberikan kebebasan dan melindungi orang yang beragama," katanya dalam diksusi publik di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (2/9).
Menurut dia, negara harus memiliki kemauan politik mempraktikkan kebebasan beragama. "Nabi Muhammad saja tidak memaksa orang lain untuk masuk ke agama Islam," tutur Shamsi. Bagi dia, menolak keragaman berarti menolak sunnatullah. "Kita diminta ta'aruf atau sharing pengalaman dengan orang lain."
Shamsi mengatakan. terkadang keindahan dalam agama dicemari tendensi radikalisme. Politikalisasi agama pun sering terjadi. "Isu-isu agama sering dipakai untuk kepentingan-kepentingan politik," katanya.
Menurut dia, membedakan kelompok minoritas dan mayoritas juga dapat menyebabkan konflik. Shamsi juga menyebutkan, menafsiran sebuah teks dengan tidak menyeluruh bisa membuat orang berpikir radikal. "Kita harus mencari penafsiran-penafsiran baru yang lebih mendamaikan," tuturnya. Peran negara dalam penegakan hukum juga harus dikedepankan.
Dewan Penasihat Setara Institue Romo Benny Soesetyo berpendapat, konflik yang dipicu persoalan beragama karena Pancasila belum diterima seratus persen dan belum menjadi internalisasi nilai. Pancasila masih menjadi kepentingan politik. "Selain itu, persoalan kita, hukum tidak pernah ditegakkan. Hukum tidak pernah pernah dijalankan secara benar," katanya.
Menurut dia, politisasi agama kini menguat. Pejabat-pejabat korup cukup marak dan agama sekadar sebagai pakaian, tidak diresapi dan dihayati. Dehumanisasi terjadi lantaran agama menjadi pembenaran pengalihan suatu kekuasaan. Oleh karena itu, negara harus menjadikan agama sebagai inspirasi sehingga memengaruhi cara berpikir dan berperilaku.
"Agama harus menjadi komitmen kemanusiaan dan keadilan," ujar Benny. Bagi dia, orang yang menghina kemanusiaan dan keadilan berarti menghina Tuhannya. Terkait radikalisme, kata dia, harus dilawan dengan ideologi dan tidak dilawan menggunakan kekerasan. "Caranya melalui pendidikan karakter yaitu mengajarkan pendidikan agama dengan rasa Indonesia." (Arif Kusuma)*
*Diplubikasikan dalam harnas.co, hari Rabu, 3-9-2014 pada jam 07.55
Comments
Post a Comment