ZAMAN EDAN (Resensi Buku: Zaman Gemblung)



Judul               : Zaman Gemblung (Berguru Kearifan dan Semangat  Hidup pada Ranggawarsita III).
Penulis            : Sri Wintala Achmad
Penerbit          : Diva Press
Terbit              : Mei 2011
Tebal              : 372 halaman

 

Hidup di zaman gemblung (gila), memang repot, akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti gerak zaman, tidak mendapat apa-apa, akhirnya menderita kelaparan, namun sudah menjadi kehendak Tuhan, walaupun orang yang lupa itu bahagia, namun masih  lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada...

Begitulah cuplikan bait Serat Kalatidha yang sudah diartikan dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia, karya pujangga asal Kraton Surakarta yang sangat tersohor, ialah Ranggawarsita. Zaman gemblung/edan digambarkan sebagai zaman yang dimana kegilaan dan kenistaan merajalela.  Zaman di mana ketakwarasan menjadi kegemaran dan hawa nafsu menjadi panglima. Kehadiran zaman ini telah diramalkan berabad-abad silam. Dan hari ini, kita dapat menyaksikan banyak sekali kemiripan tanda-tanda zaman gila itu hadir dalam kehidupan kita.

”Bila zaman edan datang, banyak pemimpin akan berhati jahat, bicaranya ngawur, dan tak bisa dipercaya. Banyak perempuan yang kehilangan rasa malu. Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat. Banyak perampokan, pemerkosaan, dan pencurian. Alam pun akan ikut terpengaruh. Banyak terjadi gerhana matahari dan bulan. Gunung-gunung meletus, menurunkan abu di mana-mana. Gempa bumi, banjir, angin ribut, hujan, badai, dan salah musim kerap terjadi. Banyak terjadi kerusuhan dan kejahatan tapi tak diketahui siapa pelaku atau penjahatnya. Negara tidak memiliki kewibawaan. Semua tata tertib dan aturan telah diporak-porandakan...,” ujar lelaki tua itu, yang menyuplik ramalan Prabu Jayabaya.

Novel ini tak hanya berkisah tentang perjalanan hidup seseorang pujangga besar nusantara ini, Ranggawarsita, yang namanya harum dikenang sepanjang zaman. Tetapi menghadirkan perjalanan yang seru dan cerita kehidupannya yang dapat dijadikan cermin langkah setiap manusia, sekaligus menjabarkan ramalannya tentang sebiuah zaman yang penuh dengan angkara murka.

Sri Wantala Achmad dalam novel epos ini mencoba mengembalikan/mengantar pembaca ke awal abad XIX, menelusuri riwayat hidup Ranggawarsita III, dengan nama aslinya Bagus Burhan. Kisah diawali dengan mimpi Sudiradimeja (Ranggawarsita II/Yasadipura II), bapak dari ranggawarsita III yang dalam mimpinya melihat Nyi Ageng Pajangsara (istri Sudiradimeja) berada di atas bukit menyaksikan pertemuan matahari dan bulan yang terbit dari arah bekas negeri Pajang dan Demak yang memancarkan cahaya kuning keemasan. Setelah bertanya pada Sastranegara (ayah Sudradimeja/Yasadipura I) tentang arti mimpi tersebut, ternyata mimpi itu pertanda bahwa cucunya atau anak Sudiradimeja yang masih dalam perut istrinya (belum lahir) akan menjadi anak yang mempunyai kelebihan, yaitu sebagai pujangga terakhir. Kelak anak itu bernama Bagus Burhan atau gelarnya ketika dewasa adalah Ranggawarsita III.

Setelah delapan tahun Bagus Burhan (Ranggawarsita III) diasuh oleh Ki Tanujaya, Ia berguru pada Kiai Imam Besari di Pondok Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo. Di sana Bagus Burhan yang ditemani oleh Ki Tanujaya, pada awalnya ia malas belajar dan sering meninggalkan Pondok karena suka ikut mengadu ayam jago, kebiasaan buruknya sebelum ia mondok. Ia dan Ki Tanujoyo sering dimarahi oleh Kiai Imam Besari karena perbuatan buruknya itu. Suatu ketika ia dan Ki Tanujaya pernah pergi dari Pondok Pesantren Gebang Tinatar menuju rumah Ngasan Ngali di madiun, masih ada hubungan kerabat dekat Ki Tanujaya. Setelah kepergian mereka ke Madiun, keadaan Tegalsari terus memburuk, yaitu banyak terjadi paceklik dan pencurian, hingga Kiai Imam Besari menyuruh muridnya untuk memanggil/membujuk Bagus Burhan serta Ki Tanujaya untuk kembali ke Tegalsari. Mereka kembali dan akhirnya keadaan Tegalsari aman seperti sedia kala setelah Bagus Burhan insyaf, mengajar ngaji, sering berkhalwat, tirakat serta riyadhah (tapa brata) oleh bimbingan Kiai Imam Besari.

Sesudah dianggap cukup mengecap ilmu dari Kiai Imam besari, Bagus Burhan pulang ke Surakarta. Setelah dikhitan (disunat),  ia diserahkan kepada Panembahan Buminata untuk mempelajari ilmu kanuragan, ilmu kadigdayaan, dan ilmu jaya kawijayaan. Setelah itu, ia mengembara ke berbagai tempat untuk mencari pengalaman hidup dan menimba ilmu dari beberapa guru, antara lain kiai Tunggul Wulung di Ngadiluwih (Kediri), pangeran Wijil dari Kadilangu (Demak), Ki Ajar Wirakantha di Ragajampi (Banyuwangi), dan Ki Ajar Sidalaku di Tabanan (Bali). Dari Ki Ajar Sidalaku, Bagus Burhan mendapatkan pengetahuan mengenai ramalan dan kemukjizatan serta ilmu penglihatan batin.

Sekembalinya di Surakarta, Bagus Burhan banyak bergaul dengan beberapa pegawai Belanda, diantaranya: J.F.C Gericke, C.f. Winter, dan Dr. Falmer Van Den Broug. Ketiga orang Belanda itu menganggap Bagus Burhan sebagai guru. Sebaliknya, dari pergaulan itu, ia mendapat pengetahuan luas dari kesusastraan Barat. Pada puncak kariernya, Bagus burhan ditawari untuk menjadi guru bahasa Jawa di Belanda dengan iming-iming gaji yang besar. Akan tetapi, ia menolak dan lebih memilih untuk mengabdi pada Kerajaan Surakarta.

Kisah dalam novel epos ini berusaha mengajak para pembaca untuk memetik pelajaran dari kearifan dan semangat hidup Ranggawarsita III. Diantaranya berisi tentang petuah-petuah, cerita pewayangan, serta tafsir ramalan Prabu Jayabaya yang melegenda. Ramalan itu juga dirasakan Ranggawarsita III disaat negerinya sedang kacau balau karena serangan penjajah Belanda yang sedang gencar-gencarnya, sehingga beliau tidak hanya melawan dengan senjata. Akan tetapi juga dengan pena dan kertas. Ia juga banyak mengeluarkan karya-karya yang fenomenal di bidang ramalan, tasawuf, cerita wayang, roman sejarah, dan lain sebagainya.

Comments