KONSEP WAHDATUL WUJUD IBNU 'ARABI


KONSEP WAHDATUL WUJUD IBNU ‘ARABI
A. Pengantar
Ibnu ‘Arabi yang nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Ibn al-‘Arabi al-Haitami al-Thai, dilahirkan di Murcia, Andalusia Tenggara tahun 560 H/1165 M, dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan. Ketika delapan tahun, keluarganya pindah ke Sevilla, tempat dimana dia memulai menuntut ilmu dan belajar al-Qur’an, hadits, serta fiqih kepada murid Ibn Hazm al-Zahiri. Setelah berumur tiga puluh tahun mulailah dia berkelana ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan Islam bagian barat. Di berbagai daerah ini dia belajar kepada beberapaorang sufi, diantaranya adalah Abu Madyan al-Gauts al-Talimsari. Lalu beberapa lama dia pergi bolak-balik antara Hijaz, Yaman, Syam, Irak, dan Mesir. Akhirnya pada tahun 620 H ia tinggal di Hijaz serta meninggal disana pada tahun 638 H.
IIbnu ‘Arabi termasuk salah seorang pemikir besar Islam. Beberapa pemikir Eropa terpengaruh oleh pemikirannya antara lain Dante, serta para sufi dan mistikus setelahnya pun terpengaruh oleh pemikiran Ibnu ‘Arabi baik di Barat maupun di Timur. Diriwayatkan bahwa dia menyusun lima ratus karya di bidang tasawuf, kebanyakan dalam bentuk manuskrip, dan dua ratus diantaranaya dikemukakan oleh Brockelman dalam karyanyya, Greschichte der Arabischen Literatur. Karyanya yang terkenal adalah Al-Futuhat al-Makkiyyah, Fushush al-Hikam dan Turjuman al-Asywaq. Pada umumnya karya-karya tersebut bercorak simbolis dalam makna yang begitu samara.
Posisinya begitu tinggi di kalangan tasawuf, memburt dirinya bergelar al-Saikh al-Akbar. Sebagian kaum skolastik di Eropa mengenalnya dengan baik, misalnya Raymod Lull.
B. Ajaran Ibnu ‘Arabi Tentang Wahdatul Wujud
Ibnu ‘Arabi adalah tokoh pertama yang menyusun paham tentang paham kesatuan wujud dalam tasawuf. Alirn ini pada dasarnya berlandaskan tonggak-tonggak rasa, sebagaimana terungkapa dalam perkataannya: “Maha suci Dzat Yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia segala sesuatu itu sendiri.”
Dalam teorinya tentang wujud, Ibnu ‘Arabi mwmpercayai terjadinya emansi, yaitu Allah menampakkan segala sesuatu dari wujud ilmu menjadi materi.Dia menginterpretasikan wujud segala yang ada sebagai “teofani abadi yang tetap berlangsung, dan tampak Yang Maha Benar di setiap saat dalam bentuk-bentuk yang terhitung bilangannya.
Ibnu ‘Arabi mengatakan, wujud ini pada hakikatnya adalah satu, yakni wujud Allah yang mitlak. Wujud yang mutlak ini bertajalli (menampakkan diri) dalam tiga martabat, yaitu :
  1. Martabat Ahadiyyah. Dzatiyyah, wujud Allah merupakan dzat yang mutlak lagi mujarrad, tidak bernama dan tidak bersifat.
  2. Martabat Wahidiyyah. Dalam martabat ini, yang juga disebut martabat Tajalli Dzat atau limpahan terkudus, dzat mujarrad itu bertajalli melalui sifat dan asma.
  3. Martabat Tajalli Syuhudi. Dalam martabat ini, yang juga disebut limpahan kudus dan kenyataan kedua, Allah bertajalli melalui asma dan sifat-Nya dalam kenyataan empiris.
Alamini menurutnya, adalah kumpulan daripada sifat-sifat Allah dan eksistensi dzat-Nya pada alam in adalah terbatas nisbi sesuai dengan sifat fenomena itu sendiri, seperti yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi dalam ungkapan berikut :
Sifat apapun yang kita berikan kepada-Nya, maka kita (makhluk) adalah sifat tersebut. Wujud kita adalah wujud-Nya, dan kita berhajat kepada-Nya dari segi wujud kita dari segi nyata-Nya bagi diri-Nya. Ungkapannya yang lainnya adalah: Maha suci Allah yang telah menjadikan segala sesuatu, sedangkan Dia adalah hakikatnya.
Dengan demikian, hakikat semesta mempunyai dua sisi, yaitu Tuhan (al-Haqq) dan makhluq (al-khalq), Yang Esa dan yang banyak, Yang Qadim dan yang baru, Ynag Bathin dan yang lahir, Yang awwal dan yang akhir. Perbedaan tersebut , timbul dari sudut tanggapan akal, sedangkan dari segi hakikat, segala kenyataan ini adalah satu.


SUFI DARI ZAMAN KE ZAMAN, karya Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, (Bandung : PENERBIT PUSTAKA, 1997), hlm. 201-202.

Comments