Semakin
lama, semakin deras
Semakin
ke hilir, semakin menghanyutkan.
Aku
masih menunggumu di sini
Di
tepian sungai yang namanya terkenal se-antero Nusantara
Yang
membelah dada Mataram Solo menjadi dua bagian.
Di
tanggal dan menit ini
Kita
telah berjanji untuk bertemu
Kita
akan menukar sekuntum bunga cinta
Yang
akan kita larung bersama-sama di sungai ini.
Hingga
kini, dikau belum juga datang
Aku
masih setia menunggumu
Dengan
rindu yang terus mengalir
Dari
ubun-ubun hingga ujung jemari.
(Arif Kusuma Fadholy, Tangerang, 7 Oktober
2013)
NB: Puisi ini telah diterbitkan dalam buku kumpulan puisi yang berjudul "Cinta itu Bernama Indonesia"
pada tahun 2014.
Comments
Post a Comment