Puisi: Epistel Rasa


Kesejukan saat melihat parasmu, hai si putih..
Beribu jenis melati timbul di ruang hati
Saat senyumanku terbalas merdu.

Tuhan memberiku segenggam cinta
Batu-batu menganggapnya hanya angin lalu
Sang gerimis  menyebutnya racun
Para bintang menganggapnya adalah anugerah
Sedangkan kita menganggap semuanya.

Telah ku bongkar dada ini
Penuh perkamen-perkamen mistis romantis.

Ku coba membacakan isinya di menara keyakinan
Fokus melaju melalui epistel rasa yang bergelombang
Hanya tertuju pada hatimu.

Mengartikannya dengan penuh kehati-hatian
Dengan gurauan-gurauan ketulusan
Tuk mencairkan suasana yang kaku. (13-3-11)

Comments